When
your heart's down
And
you sit in front of the court
The
lawyers do something for you
They
judge the right against the wrong
While
you don't know what happened behind
To
the so called the guilties
They
try to differ
from
good to bad
The
court may sentence you
prison
or even death
Then
beat afast
That
you feel what's in your heart
if
you forgot the Lord
Yes,
the Lord above
Lirik lagu tersebut bukan karya
Bob Dylan atau John Denver. Mungkin Anda tidak mengira kalau lagu tersebut
karangan Tonny Koeswoyo dan diliris Koes Bersaudara tahun 1967, dua tahun setelah geger 1965.
Sangat mengherankan bila lagu tersebut luput dari sensor rezim Orde Baru yang
ketat. Barangkali karena lirik tersebut berbahasa Inggris, sehingga rezim Orde
Baru tidak menyadarinya.
Padahal, dari judulnya saja lagu
tersebut sudah “menyengat’. To The So Called The Guilties, Untuk Mereka
yang Dianggap Bersalah. Orang awam pun tahu kemana arah lagu tersebut.
Ketika itu adalah masa yang paling kelam dalam sejarah republik ini. Kendati
sudah sering dibicarakan, peristiwa 30 September 1965 itu sampai sekarang masih
misterius. Saya tidak ingin membicarakan peristiwa itu dari sudut pandang
politik maupun agama. Saya ingin membahasnya dengan sudut pandang kemanusiaan.
Dikisahkan bahwa pada “malam
jahanam” itu, Pasukan Cakrabirawa “menculik” para petinggi Angkatan Darat,
karena mendengar issu tentang adanya persekongkolan “Dewan Jenderal” yang ingin
menggulingkan Bung Karno. Dalam insiden itu, enam orang jenderal dan seorang
kapten Angkatan Darat gugur di Lubang Buaya. Gugurnya tujuh tentara itu menjadi
awal peristiwa paling memilukan dalam sejarah negeri ini. Mereka menuduh PKI
melakukan pemberontakan. Bukan hanya itu, fitnah yang keji pun diarahkan kepada
PKI dan seluruh organisasi underbow-nya. Inilah cerita versi mereka.
Pada 1 Oktober
1965 telah terjadi penculikan dan pembunuhan enam orang jenderal dan seorang
perwira pertama AD yang kemudian dimasukkan ke sebuah sumur tua di desa Lubang
Buaya, Pondokgede oleh pasukan militer G30S. Pasukan ini berada di bawah
pimpinan Letkol Untung, Komandan Batalion I Resimen Cakrabirawa, pasukan
pengawal Presiden.
Pada 4 Oktober
1965, ketika dilakukan penggalian jenazah para jenderal di Lubang Buaya, Mayjen
Suharto, Panglima Kostrad menyampaikan pidato yang disiarkan luas yang
menyatakan bahwa para jenderal telah dianiaya sangat kejam dan biadab sebelum
ditembak. Dikatakan olehnya bahwa hal itu terbukti dari bilur-bilur luka di
seluruh tubuh para korban. Di samping itu Suharto juga menuduh, Lubang Buaya
berada di kawasan PAU Halim Perdanakusuma, tempat latihan sukarelawan Pemuda
Rakyat dan Gerwani. Perlu disebutkan bahwa Lubang Buaya terletak di wilayah
milik Kodam Jaya. Di samping itu disiarkan secara luas foto-foto dan film
jenazah yang telah rusak yang begitu mudah menimbulkan kepercayaan tentang
penganiayaan biadab itu. Hal itu diliput oleh media massa yang telah dikuasai
AD, yakni RRI dan TVRI serta koran milik AD Angkatan Bersendjata dan Berita
Yudha. Sementara seluruh media massa lain dilarang terbit sejak 2 Oktober.
Jadi sudah pada 4 Oktober itu
Suharto menuduh AURI, Pemuda Rakyat dan Gerwani bersangkutan dengan kejadian di
Lubang Buaya. Selanjutnya telah dipersiapkan skenario yang telah digodok dalam
badan intelijen militer untuk melakukan propaganda hitam terhadap PKI secara
besar-besaran dan serentak. Dilukiskan terdapat kerjasama erat dan serasi
antara Pemuda Rakyat dan Gerwani serta anggota ormas PKI lainnya dalam
melakukan penyiksaan para jenderal dengan menyeret, menendang, memukul,
mengepruk, meludahi, menghina, menusuk-nusuk dengan pisau, menoreh silet ke
mukanya. Dan puncaknya kaum perempuan Gerwani itu dilukiskan sebagai telah
kerasukan setan, menari-nari telanjang yang disebut tarian harum bunga, sambil
menyanyikan lagu Genjer-genjer, lalu
mecungkil mata korban, menyilet kemaluan mereka, dan memasukkan potongan
kemaluan itu ke mulutnya.
Fitnah keji itu
bertentangan dengan hasil visum et
repertum tim dokter yang dilakukan atas perintah Jenderal Suharto sendiri
yang diserahkan kepadanya pada 5 Oktober 1965, bahwa tidak ada tanda-tanda
penyiksaan biadab, mata dan kemaluan korban dalam keadaan utuh. Laporan resmi
tim dokter itu sama sekali diabaikan dan tak pernah diumumkan. Kampanye hitam
terhadap PKI terus-menerus dilakukan secara berkesinambungan selama
bertahun-tahun tanpa jeda. Dalil intelijen menyatakan bahwa kebohongan yang
terus-menerus disampaikan akhirnya dianggap sebagai kebenaran. Bahkan sampai sekarang,
ketika informasi sudah dapat diperloleh secara bebas terbuka, fitnah itu masih
dipercaya oleh sementara kalangan yang bebal dan buta informasi. Tujuan fitnah
itu adalah membangkitkan kebencian rakyat dan kaum agama kepada PKI dan seluruh
organisasi underbow-nya, sehingga terjadi pembantaian massal para anggota PKI
dan mereka yang dituduh PKI sesuai dengan doktrin membasmi sampai ke
akar-akarnya.
Segala macam
dongeng fitnah busuk berupa temuan lubang buaya‖ yang dipersiapkan PKI dan
konco-konconya untuk mengubur lawan-lawan politiknya ini bertaburan di banyak
berita koran 1965-1966 dan terekam juga dalam sejumlah buku termasuk buku yang
ditulis Jenderal Nasution, yang dianggap sebagai peristiwa dan fakta sejarah,
bahkan selalu dilengkapi dengan apa yang disebut daftar maut,‖ meskipun keduanya
tak pernah dibuktikan sebagai kejadian sejarah maupun bukti di pengadilan.
Tokoh-tokoh PKI diburu,
ditangkap, disiksa, dan akhirnya dibunuh tanpa proses pengadilan yang
semestinya. Memang beberapa petinggi PKI disidangkan dengan digelarnya Mahmilub
(Mahkamah Militer Luar Biasa). Tapi, itu adalah pengadilan yang direkayasa.
When your heart's down
(Ketika hatimu hancur)
and you sit in front of the court
(dan kamu duduk di depan sidang
pengadilan)
The lawyers do something for you
(Para pengacara berbuat maksimal
untuk membelamu)
they judge the right against the
wrong
(tapi, hakim menganggap kebaikan
sebagai kejahatan)
While you don't know what
happened behind
(Sementara kau tak tahu persis
apa yang terjadi di balik semua itu)
Begitulah jeritan Tonny. Dan
memang itulah yang terjadi. Satu per satu tokoh PKI akhirnya dieksekusi setelah
disiksa secara keji. Mereka yang mencoba melarikan diri diburu dan ditembak
mati. Ternyata bukan hanya pemimpin PKI saja yang diburu, anggota keluarga yang
tak berdosa pun turut menjadi korban. Soetarni, istri Nyoto, harus mendekam di
penjara sampai 13 tahun bersama ketujuh anaknya yang masih kecil-kecil. Banyak
istri tokoh PKI yang ditangkap, disiksa, bahkan diperkosa di luar batas-batas
kemanusiaan. Dan mereka yang di tingkat “akar rumput” pun diburu untuk kemudian
dibunuh. Tak terhitung keluarga yang harus tercerai-berai akibat pembantaian
itu. Tak terhitung pula anak-anak yang harus kehilangan orang tuanya.
Peristiwa 1965 bukan hanya
merupakan tragedi politik, melainkan juga tragedi kemanusiaan. Sulit dipercaya
jika bangsa yang religious ini tega membantai bangsanya sendiri untuk sesuatu
yang sia-sia. Para pembantai adalah tentara dan ormas-ormas pemuda, baik yang
berbasis nasionalis maupun agama. Mereka bergerak dengan berbagai motivasi.
Dengan dalih menumpas pemberontak dan kaum kafir, jutaan orang yang tidak
berdaya telah dibantai dengan cara yang paling keji.
Dan kekejaman Orde Baru tidak
hanya berhenti di situ. Anak keturunan PKI masih harus menanggung hukuman yang lebih
dahsyat lagi. Mereka dicabut hak hidupnya karena dilarang menempati
pekerjaan-pekerjaan tertentu. Belum lagi stigma “anak setan” yang melekat
seumur hidup pada mereka. Siapa yang pantas disebut “setan”? Para pembantai
atau mereka yang dibantai?
To the so called
the guilties
(Untuk mereka yang
dianggap bersalah)
They try to differ
(Mereka coba
membedakan)
from good to bad
(yang baik dan yang
buruk)
The court may
sentence you
(Lalu pengadilan
mungkin menghukummu)
prison or even
death
(dengan masuk bui,
atau bahkan hukuman mati)
Then beat afast
(Lalu [detak
jantung] terasa begitu cepat)
that you feel
what's in your heart
(seperti yang kau
rasakan sendiri di dadamu)
If you forgot the
Lord
(Bila kau [telah]
lupa akan Tuhan)
Yes...the Lord
above
(ya...Tuhan yang di
atas sana)
Yang jelas, Tuhan di atas sana
tidak akan pernah diam. Semua telah dicatat dengan rapi. Pada saatnya nanti,
pengadilan Tuhan-lah yang akan mengadili dengan seadil-adilnya. Akan terbukti
nanti, siapa yang benar dan siapa yang bersalah. Siapa yang akan mendapat
ganjaran dan siapa yang akan mendapat hukuman.