1. Pengertian Nomina
Nomina (nomian substantiva) atau kata benda dibatasi sebagai nama dari semua
benda dan segala sesuatu yang
dibendakan. Selanjutnya, menurut wujudnya, kata benda dibedakan lagi
menjadi:
- Kata
Benda Kongkret,
yaitu nama dari benda-benda yang dapat
ditangkap dengan pancaindera. Kata benda kongkret dapat dibagi lagi atas:
1)
nama diri :
Tomi, Hasan, Nina, Anita
Contoh:
(a)
Tomi pergi ke
sekolah bersama Hasan.
(b)
Sejak dulu
Nina dan Anita bersahabat baik.
2)
nama benda :
rumah, batu, tali, bintang
Controh:
(a)
Ada sebuah
rumah di kampung itu yang tidak berpenghuni.
(b)
Ada jutaan
bintang di langit malam itu.
3)
nama zat : emas, tanah, air, api
Contoh:
(a)
Harga emas selalu naik setiap tahunnya.
(b)
Kemakmuran orang desa diukur berdasarkan luas tanah
yang dimiliki.
4)
nama alat :
pemukul, cangkul, pisau, bedil
Contoh:
(a)
Pemukul adalah sebuah alat yang selalu dibawa oleh
seorang tukang kayu.
(b)
Kaum militan
bersenjata bedil hasil rampasan.
5)
nama jenis :
siswa, guru, kain
Contoh:
(a)
Setiap siswa
wajib menaati tata tertib sekolah.
(b)
Semua guru
akan mengikuti rapat hari ini.
- Kata
Benda Abstrak,
yaitu nama-nama benda yang tidak dapat
ditangkap dengan pancaindera. Kata benda abstrak dapat dibagi lagi atas:
1)
nama
sifat : keagungan, kehinaan, keluhuran,
kebesaran, kebodohan, kekuatan.
2)
nama keadaan :
kebesaran, kehinaan, kemalasan, kemarahan, kerugian, kesudahan, kamanusiaan.
3)
nama perbuatan
: pemukulan, pencurian, penyatuan, kebakaran, kekalahan.
2. Ciri-Ciri Nomina
Terlepas dari segala macam prasangka dan prarasa yang
sekarang sudah tertanam kuat dalam pikiran mereka yang sudah pernah mendapat
pengajaran tata bahasa secara tradisional, maka sebenarnya sulit untuk
menentukan apa sebenarnya nomina atau kata benda dalam bahasa Indonesia
berdasarkan bentuknya. Secara tradisional kata-kata seperti: rumah, api, air, dan batu digolongkan
dalam kata benda berdasarkan arti yang didukungnya. Dan arti yang dimaksud
ditetapkan secara filosofis. Di pihak lain, kalau kita menggunakan asas ilmu
bahasa modern, sebenarnya sukar juga untuk menentukan apakah
sebuah kata termasuk dalam kata benda
berdasarkan bentuknya. Namun ada juga kata-kata yang secara tradisional
digolongkan dalam kata benda, mengandung juga kesamaan-kesamaan bentuk,
misalnya:
(1)
perumahan, peternakan, perbuatan, pertunjukan,
pergerakan, persahabatan, persatuan, permusuhan, yang mengandung persamaan bentuk per-an;
(2)
kecantikan, keagungan, kelembutan, kesatriaan, kerajaan, yang mengandung kesamaan bentuk ke-an;
(3)
pelari, penari, penebus, pemberi, pengawal, penghibur, yang mengandung kesamaan bentuk pe-;
(4)
jembatan,
timbangan, ukuran, tulisan, bacaan, hiburan, yang mengandung kesamaan
bentuk –an.
Kita juga menemukan kata-kata yang
menggunakan bentuk tersebut, namun kata-kata itu masuk dalam kelas kata lain.
Misalnya: pemalas dapat berarti ‘
orang yang malas’ atau ‘bersifat malas’ ; kehujanan,
yang bukan kata benda karena mengandung arti ‘kena hujan’.
Karena itu, untuk menentukan apakah
sebuah kata adalah kata benda atau bukan, akan digunakan dua prosedur. Pertama:
penetapan dari segi bentuk dan kedua: penetapan dari segi kelompok kata.
- Bentuk
Morfologis
Dari sudut bentuk kata, semua kata yang
mengandung morfem terikat (imbuhan) ke-an,
per-an, pe-, -an, misalnya perumahan,
perbuatan, kecantikan, pelari, jembatan, kita calonkan sebagai kata benda.
Namun, di samping itu harus diingat bahwa ada sejumlah besar kata yang tidak
dapat ditentukan sebagai kata benda dari segi bentuk, seperti meja, kursi, rumah, pohon, dan kayu. Kedua kelompok kata ini, baik yang
berimbuhan maupun yang tidak berimbuhan, akan bertemu dalam prosedur berikut
ini.
- Kelompok
Kata
Kedua
kelompok kata benda seperti disebutkan di atas, dapat mengandung suatu ciri
struktural yang sama, yaitu dapat diperluas dengan yang + kata sifat. Misalnya:
perumahan
yang baru ayah yang
baik
pelari yang cepat anak
yang nakal
kesadaran yang tinggi meja
yang besar
jembatan yang panjang pohon
yang tinggi
Jika dilihat dari struktur bahasa
Indonesia, semua kata yang digolongkan dalam kata benda haruslah mengandung
ciri-ciri itu, dan dengan sendirinya ciri-ciri itu akan menjadi dasar untuk
memberi batasan mengenai kata benda.
3. Drivasi atau Transposisi
Derivasi
atau transposisi adalah suatu proses untuk mengubah identifikasi leksikal
sebuah kata, baik dengan memindajkan kelas katanya maupun tidak memindahkan
kelas katanya. Dengan demikian derivasi atau transposisi, dalam kaitan dengan
nomina adalah proses untuk mengubah sebuah kata benda ke kelas kata lain, atau
mengubah kata lain menjadi kata benda.
- Derivasi
Internal
Derivasi
internal adalah proses perubahan identitas sebuah kata benda tanpa pemindahan
kelas katanya. Jadi, kata itu tetap berstatus kata benda, tetapi identitas
leksikalnya berubah. Kata-kata yang mengalami proses
itu misalnya:
pangkal -> pangkalan menteri ->
kememterian
laut
-> lautan duta -> kedutaan
gubernur -> gubernuran raja -> kerajaan
darat -> daratan Tuhan
-> ketuhanan
- Derivasi
Denominal
Derivasu
denominal adalah proses mengubah kata benda ke kelas kata yang lain, baik kata
kerja, kata sifat, atau kata tugas.
1) Verba Denominal
Sebuah
kata benda dapat menjadi kata kerja dengan menggunakan prefiks me-, ber-, atau
sufiks –kan,
-i atau gabungan antara prefiks dan sufiks tersebut. Misalnya:
tombak ->
menombak, menombakkan, menombaki, bertombak
jalan ->
berjalan, menjalankan, menjalani
buah -> berbuah, membuahkan
cangkul ->
mencangkul, mencangkulkan
Contoh:
(1)
Mereka
menombaki babi hutan itu sampai mati.
(2)
Dia akan
menjalankan perusahaan itu sesuai dengan keinginan ayahnya.
(3)
Pohon itu
berbuah dengan lebat.
(4)
Pak tani
sedang mencangkul di sawah
2) Adjektif Denominal
Beberapa derivasi denominal dapat
menghasilkan adjektif (kata sifat), misalnya:
emas ->
keemasan
perak ->
keperakan
anak ->
kekanak-kanakan
batu -> membatu
Contoh:
(1)
Langit keemasan di ufuk barat ketika sore tiba.
(2)
Warna rambut
keperakan itu yang selalu kuingat.
(3)
Tingkah lakunya kekanak-kanakan.
(4)
Fosil itu membatu ditelan oleh zaman.
3) Adverbia Denominal
Bila
kata sifat yang diturunkan dari kata benda sangat terbatas, adverbia yang
diturunkan dari kata banda lebih terbatas lagi jumlahnya. Contoh derivasi:
rupa -> rupanya
rasa -> rasanya
Contoh:
(1)
Dialah rupanya
yang selalu hadir dalam setiap mimpiku.
(2)
Senang rasanya dapat menemukanmu di tempat ini.
- Nominalisasi
Nominalisasi
atau disebut juga substantivasi adalah suatu proses perubahan kelas kata, yaitu
dari kelas kata yang lain menjadi nomina. Berdasarkan kelas katanya,
nominalisasi atau substantivasi dapat berujud nominalisasi deverbal dan
nominalisasi deadjektival.
1)
Nomina Deverbal
2)
Nomina Deadjektival