Sabtu, 10 Agustus 2013

NOMINA





1.      Pengertian Nomina
Nomina (nomian substantiva) atau kata benda dibatasi sebagai nama dari semua benda dan segala sesuatu yang dibendakan. Selanjutnya, menurut wujudnya, kata benda dibedakan lagi menjadi:
  1. Kata Benda Kongkret,
yaitu nama dari benda-benda yang dapat ditangkap dengan pancaindera. Kata benda kongkret dapat dibagi lagi atas:
1)      nama diri : Tomi, Hasan, Nina, Anita
Contoh:
(a)    Tomi pergi ke sekolah bersama Hasan.
(b)   Sejak dulu Nina dan Anita bersahabat baik.
2)      nama benda : rumah, batu, tali, bintang
Controh:
(a)    Ada sebuah rumah di kampung itu yang tidak berpenghuni.
(b)   Ada jutaan bintang di langit malam itu.
3)      nama zat : emas, tanah, air, api
Contoh:
(a)    Harga emas selalu naik setiap tahunnya.
(b)   Kemakmuran orang desa diukur berdasarkan luas tanah yang dimiliki.
4)      nama alat : pemukul, cangkul, pisau, bedil
Contoh:
(a)    Pemukul adalah sebuah alat yang selalu dibawa oleh seorang tukang kayu.
(b)   Kaum militan bersenjata bedil hasil rampasan.
5)      nama jenis : siswa, guru, kain
Contoh:
(a)    Setiap siswa wajib menaati tata tertib sekolah.
(b)   Semua guru akan mengikuti rapat hari ini.
  1. Kata Benda Abstrak,
yaitu nama-nama benda yang tidak dapat ditangkap dengan pancaindera. Kata benda abstrak dapat dibagi lagi atas:
1)      nama sifat  : keagungan, kehinaan, keluhuran, kebesaran, kebodohan, kekuatan.
2)      nama keadaan : kebesaran, kehinaan, kemalasan, kemarahan, kerugian, kesudahan, kamanusiaan.
3)      nama perbuatan : pemukulan, pencurian, penyatuan, kebakaran, kekalahan.

2.      Ciri-Ciri Nomina
Terlepas dari segala macam prasangka dan prarasa yang sekarang sudah tertanam kuat dalam pikiran mereka yang sudah pernah mendapat pengajaran tata bahasa secara tradisional, maka sebenarnya sulit untuk menentukan apa sebenarnya nomina atau kata benda dalam bahasa Indonesia berdasarkan bentuknya. Secara tradisional kata-kata seperti: rumah, api, air, dan batu digolongkan dalam kata benda berdasarkan arti yang didukungnya. Dan arti yang dimaksud ditetapkan secara filosofis. Di pihak lain, kalau kita menggunakan asas ilmu bahasa modern, sebenarnya sukar juga untuk menentukan apakah
sebuah kata termasuk dalam kata benda berdasarkan bentuknya. Namun ada juga kata-kata yang secara tradisional digolongkan dalam kata benda, mengandung juga kesamaan-kesamaan bentuk, misalnya:
(1)   perumahan, peternakan, perbuatan, pertunjukan, pergerakan, persahabatan, persatuan, permusuhan, yang mengandung persamaan bentuk per-an;
(2)   kecantikan, keagungan, kelembutan, kesatriaan, kerajaan, yang mengandung kesamaan bentuk ke-an;
(3)   pelari, penari, penebus, pemberi, pengawal, penghibur, yang mengandung kesamaan bentuk pe-;
(4)   jembatan, timbangan, ukuran, tulisan, bacaan, hiburan, yang mengandung kesamaan bentuk –an.
Kita juga menemukan kata-kata yang menggunakan bentuk tersebut, namun kata-kata itu masuk dalam kelas kata lain. Misalnya: pemalas dapat berarti ‘ orang yang malas’ atau ‘bersifat malas’ ; kehujanan, yang bukan kata benda karena mengandung arti ‘kena hujan’.
Karena itu, untuk menentukan apakah sebuah kata adalah kata benda atau bukan, akan digunakan dua prosedur. Pertama: penetapan dari segi bentuk dan kedua: penetapan dari segi kelompok kata.

  1. Bentuk Morfologis
Dari sudut bentuk kata, semua kata yang mengandung morfem terikat (imbuhan) ke-an, per-an, pe-, -an, misalnya perumahan, perbuatan, kecantikan, pelari, jembatan, kita calonkan sebagai kata benda. Namun, di samping itu harus diingat bahwa ada sejumlah besar kata yang tidak dapat ditentukan sebagai kata benda dari segi bentuk, seperti meja, kursi, rumah, pohon, dan kayu. Kedua kelompok kata ini, baik yang berimbuhan maupun yang tidak berimbuhan, akan bertemu dalam prosedur berikut ini.
  1. Kelompok Kata
Kedua kelompok kata benda seperti disebutkan di atas, dapat mengandung suatu ciri struktural yang sama, yaitu dapat diperluas dengan yang + kata sifat. Misalnya:

perumahan yang baru                         ayah yang baik
pelari yang cepat                                 anak yang nakal
kesadaran yang tinggi                         meja yang besar
jembatan yang panjang                       pohon yang tinggi

Jika dilihat dari struktur bahasa Indonesia, semua kata yang digolongkan dalam kata benda haruslah mengandung ciri-ciri itu, dan dengan sendirinya ciri-ciri itu akan menjadi dasar untuk memberi batasan mengenai kata benda.

3.      Drivasi atau Transposisi
Derivasi atau transposisi adalah suatu proses untuk mengubah identifikasi leksikal sebuah kata, baik dengan memindajkan kelas katanya maupun tidak memindahkan kelas katanya. Dengan demikian derivasi atau transposisi, dalam kaitan dengan nomina adalah proses untuk mengubah sebuah kata benda ke kelas kata lain, atau mengubah kata lain menjadi kata benda.
  1. Derivasi Internal
Derivasi internal adalah proses perubahan identitas sebuah kata benda tanpa pemindahan kelas katanya. Jadi, kata itu tetap berstatus kata benda, tetapi identitas leksikalnya berubah. Kata-kata yang mengalami proses itu misalnya:

pangkal -> pangkalan                          menteri -> kememterian
laut      -> lautan                                 duta     -> kedutaan
gubernur -> gubernuran                      raja     -> kerajaan
darat   -> daratan                                Tuhan  -> ketuhanan

  1. Derivasi Denominal
Derivasu denominal adalah proses mengubah kata benda ke kelas kata yang lain, baik kata kerja, kata sifat, atau kata tugas.
1)      Verba Denominal
Sebuah kata benda dapat menjadi kata kerja dengan menggunakan prefiks me-, ber-, atau sufiks –kan, -i atau gabungan antara prefiks dan sufiks tersebut. Misalnya:
tombak      -> menombak, menombakkan, menombaki, bertombak
jalan           -> berjalan, menjalankan, menjalani
buah          -> berbuah, membuahkan
cangkul      -> mencangkul, mencangkulkan
Contoh:
(1)      Mereka menombaki babi hutan itu sampai mati.
(2)      Dia akan menjalankan perusahaan itu sesuai dengan keinginan ayahnya.
(3)      Pohon itu berbuah dengan lebat.
(4)      Pak tani sedang mencangkul di sawah
2)      Adjektif Denominal
Beberapa derivasi denominal dapat menghasilkan adjektif (kata sifat), misalnya:
emas          -> keemasan
perak         -> keperakan
anak           -> kekanak-kanakan
batu           -> membatu
Contoh:
(1)     Langit keemasan di ufuk barat ketika sore tiba.
(2)     Warna rambut keperakan itu yang selalu kuingat.
(3)     Tingkah lakunya kekanak-kanakan.
(4)     Fosil itu membatu ditelan oleh zaman.

3)      Adverbia Denominal
Bila kata sifat yang diturunkan dari kata benda sangat terbatas, adverbia yang diturunkan dari kata banda lebih terbatas lagi jumlahnya. Contoh derivasi:
rupa           ->  rupanya
rasa            ->  rasanya

Contoh:
(1)   Dialah rupanya yang selalu hadir dalam setiap mimpiku.
(2)   Senang rasanya dapat menemukanmu di tempat ini.

  1. Nominalisasi
Nominalisasi atau disebut juga substantivasi adalah suatu proses perubahan kelas kata, yaitu dari kelas kata yang lain menjadi nomina. Berdasarkan kelas katanya, nominalisasi atau substantivasi dapat berujud nominalisasi deverbal dan nominalisasi deadjektival.
1)      Nomina Deverbal
2)      Nomina Deadjektival

Tidak ada komentar:

Posting Komentar