Minggu, 11 Agustus 2013

POLISEMI DAN HOMONIM



Yang dimaksud dengan polisemi adalah situasi di mana sebuah kata memiliki banyak makna (poly = banyak, sema = tanda). Sedangkan homonim adalah keadaan di mana dua kata atau lebih memiliki bentuk yang hampir sama atau mirip satu sama lain. Jadi, pada waktu berbicara tentang polisemi, kita menghadapi satu kata. Pada waktu berbicara tentang homonim kita berhadapan dengan dua kata atau lebih.
Jarang sebuah kata hanya memiliki sebuah arti. Biasanya tiap kata memiliki lebih dari satu arti. Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia tercatat kata-kata seperti dikemukakan di bawah ini.
pesan                    :   1 perintah, nasihat, permintaan, amanat yang harus dilakukan atau  
                     disampaikan kepada orang lain;   2 permintaan hendak membeli;  
                     3 perkataan (wasiat) yang terakhir (dari orang yang akan meninggal
                     dunia).
lihat; melihat:   1 menggunakan mata untuk memandang; menonton; 3 mengetahui,
                         membuktikan; 4 menilik; 5 meramalkan; 6  menengok.
bunga :   1 bagian dari tumbuhan yang akan menjadi buah, biasanya elok warnanya   
               dan harum baunya; kembang; 2 jenis bagi berbagai bunga;  … melati, …
               mawar; 3 gambar hiasan (pada kain, ukiran, dan sebagainya); 4 (kiasan)
               sesuatu yang dianggap elok seperti bunga; 5 tanda-tanda baik.
Polisemi terjadi karena pergeseran makna, baik dalam konteks maupun karena orang ingin mengiaskan sesuatu dengan mempergunakan bentuk tertentu. Karena itu, masih terdapat hubungan antara semua makna kata itu. Kata makan yang mengandung arti ‘memasukkan sesuatu ke dalam mulut, mengunyah, dan menelannya’, dapat bergeser berdasarkan lingkungan dan situasinya: Ia makan tangan yang memiliki arti ‘kena tinju’ atau beruntung besar’. Makan suap artinya ‘menerima sogok’, makan garam artinya ‘sudah berpengalaman’.
Homonim bukan satu kata seperti poliosemi, tetapi merupakan dua kata yang berbeda, namun kebetulan bentuknya sama atau mirip. Karena itu, tidak terdapat arti yang didukung oleh homonim-homonim itu. Homonim dapat terjadi karena sebuah bahasa menyerap kata-kata baru dari bahasa lain, atau karena perubahan bentuk dari waktu ke waktu sehingga terjadi kesamaan bentuk antara dua kata. Kata-kata semacam ini dalam kamus biasanya dimasukkan sebagai kata kepala sendiri, dan ditandai dengan angka I, II, dan seterusnya, atau dengan memberi angka 1,2, di depan kata itu. Misalnya, kata bisa I yang berarti ‘dapat’, ‘sanggup’, dan bisa II yang berarti ‘racun’ (diserap dari bahasa Sansekerta).
Kata-kata berhomonim dapat dibedakan lagi atas:
1)        Homonim yang homograf dan homofon (sering disebut homonim saja) adalah
       kata-kata yang tulisannya sama dan lafal (bunyi)-nya sama.
Contoh:
bisa (I racun; II dapat, sanggup), rawan (I sedih; II tulang muda; genting, kritis, gawat), kunjung (I lekas; II bertamu).
Kata-kata lain yang termasuk kelompok ini:
acu, ahli, ala, alam, alat, amat, antuk, arak, bajak, bak, bala, baku, bandar, betik, bis, bon, buku, buram, cakap, campak, cocok, diam, etiket, gelandang, gemuk, jorok, kabur, karang, karat, kecut, kikir, kopi, langgar, lambung, madu, mur, paku, paling, papan, para, pasang, peri, pohon, raga, rahim, rapat, rayap, roman, salut, sangsi, siang, suling, sumbang, tambang, tanggal, tawar.
2)        Homonim yang homograf tapi tak homofon ( atau homograf saja) adalah kata-kata
       yang tulisannya sama tetapi lafalnya berbeda.
Contoh:
teras (I inti; II serambi), sedan (I sedu; II mobil), tahu (I mengerti, kenal; II makanan dari kedelai).
Contoh kata lain:
bela, kecap, mental, pepet, persil, semi, serak, serap, serang, seret, seri.
3)        Homonim yang tidak homograf tapi homofon (atau homofon saja) adalah kata yang tulisannya berbeda tetapi ucapannya sama. Misalnya kata bahwa, bawah, bawa, sering diucapkan sama saja, yaitu fonem /h/ tidak diucapkan: Ia mengatakan bahwa adiknya dibawa dan disembunyikan di bawah pohon. Demikian juga kata-kata seperti: sangsi – sanksi, bang – bank, tuah – tua, mudah – muda, gajih – gaji, dan rekah – reka.

3 komentar: