Yang dimaksud dengan polisemi adalah
situasi di mana sebuah kata memiliki banyak makna (poly = banyak, sema =
tanda). Sedangkan homonim adalah keadaan di mana dua kata atau lebih memiliki
bentuk yang hampir sama atau mirip satu sama lain. Jadi, pada waktu berbicara
tentang polisemi, kita menghadapi satu kata. Pada waktu berbicara tentang
homonim kita berhadapan dengan dua kata atau lebih.
Jarang sebuah kata hanya memiliki sebuah
arti. Biasanya tiap kata memiliki lebih dari
satu arti. Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia tercatat kata-kata seperti
dikemukakan di bawah ini.
pesan :
1 perintah, nasihat, permintaan, amanat yang harus dilakukan atau
disampaikan kepada orang
lain; 2 permintaan hendak
membeli;
3 perkataan
(wasiat) yang terakhir (dari orang yang akan meninggal
dunia).
lihat; melihat: 1 menggunakan mata untuk memandang;
menonton; 3 mengetahui,
membuktikan; 4 menilik;
5 meramalkan; 6 menengok.
bunga : 1
bagian dari tumbuhan yang akan menjadi buah, biasanya elok warnanya
dan harum baunya; kembang; 2 jenis bagi berbagai bunga; … melati, …
mawar; 3 gambar hiasan
(pada kain, ukiran, dan sebagainya); 4 (kiasan)
sesuatu yang dianggap elok
seperti bunga; 5 tanda-tanda baik.
Polisemi terjadi karena pergeseran
makna, baik dalam konteks maupun karena orang ingin mengiaskan sesuatu dengan
mempergunakan bentuk tertentu. Karena itu, masih terdapat hubungan antara semua
makna kata itu. Kata makan yang mengandung arti ‘memasukkan sesuatu ke
dalam mulut, mengunyah, dan menelannya’, dapat bergeser berdasarkan lingkungan
dan situasinya: Ia makan tangan yang memiliki arti ‘kena tinju’ atau
beruntung besar’. Makan suap artinya ‘menerima sogok’, makan garam artinya
‘sudah berpengalaman’.
Homonim bukan satu kata seperti
poliosemi, tetapi merupakan dua kata yang berbeda, namun kebetulan bentuknya
sama atau mirip. Karena itu, tidak terdapat arti yang didukung oleh
homonim-homonim itu. Homonim dapat terjadi karena sebuah bahasa menyerap
kata-kata baru dari bahasa lain, atau karena perubahan bentuk dari waktu ke
waktu sehingga terjadi kesamaan bentuk antara dua kata. Kata-kata semacam ini
dalam kamus biasanya dimasukkan sebagai kata kepala sendiri, dan ditandai
dengan angka I, II, dan seterusnya, atau dengan memberi angka 1,2, di depan
kata itu. Misalnya, kata bisa I yang berarti
‘dapat’, ‘sanggup’, dan bisa II yang berarti ‘racun’ (diserap dari
bahasa Sansekerta).
Kata-kata berhomonim dapat dibedakan lagi atas:
1)
Homonim yang
homograf dan homofon (sering disebut homonim saja) adalah
kata-kata yang tulisannya sama dan lafal
(bunyi)-nya sama.
Contoh:
bisa (I racun; II dapat, sanggup), rawan (I sedih; II tulang muda;
genting, kritis, gawat), kunjung (I lekas; II bertamu).
Kata-kata lain yang termasuk kelompok
ini:
acu, ahli, ala, alam, alat, amat, antuk,
arak, bajak, bak, bala, baku, bandar, betik, bis, bon, buku, buram, cakap,
campak, cocok, diam, etiket, gelandang, gemuk, jorok, kabur, karang, karat,
kecut, kikir, kopi, langgar, lambung, madu, mur, paku, paling, papan, para,
pasang, peri, pohon, raga, rahim, rapat, rayap, roman, salut, sangsi, siang,
suling, sumbang, tambang, tanggal, tawar.
2)
Homonim yang homograf tapi tak homofon ( atau homograf
saja) adalah kata-kata
yang tulisannya
sama tetapi lafalnya berbeda.
Contoh:
teras (I inti; II serambi), sedan (I sedu; II mobil), tahu (I
mengerti, kenal; II makanan dari kedelai).
Contoh
kata lain:
bela, kecap, mental, pepet, persil,
semi, serak, serap, serang, seret, seri.
3)
Homonim
yang tidak homograf tapi homofon (atau homofon saja) adalah kata yang
tulisannya berbeda tetapi ucapannya sama. Misalnya kata bahwa, bawah, bawa,
sering diucapkan sama saja, yaitu fonem /h/ tidak diucapkan: Ia mengatakan bahwa
adiknya dibawa dan disembunyikan di bawah pohon. Demikian juga kata-kata seperti: sangsi – sanksi, bang
– bank, tuah – tua, mudah – muda, gajih – gaji, dan rekah – reka.
terima kasih atas ilmunya, sangat bermanfaat.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusHomonim madu tegese
BalasHapus